Senin, 19 November 2012

Menguap



MENGUAP ITU MENULAR (?)


Tanpa disadari seringkali saat melihat orang lain menguap akan ikut-ikutan menguap. Bukan karena latah kalau yang melihat ikutan menguap, karena menguap memang bisa menular. Menguap adalah tindakan refleks yang terjadi pada semua orang, biasanya dilakukan untuk menghirup udara dalam jumlah banyak dan diikuti dengan pernapasan.
Tindakan refleks ini seringkali dikaitkan dengan stres, kelelahan, terlalu banyak kerjaan, kebosanan dan mengantuk. Menguap juga bisa terjadi bila ada kelebihan karbondioksida atau kelangkaan oksigen dalam aliran darah.
Menguap akan terus kita lakukan secara spontan sepanjang hidup kita. Bahkan, sejak janin kita sudah mulai menguap dalam rahim tepatnya pada minggu ke-11 setelah pembuahan. Bukan cuma kita, hampir semua hewan vertebrata juga dapat menguap, termasuk juga ular dan kadal. Namun menguap yang menular hanya terjadi pada manusia, simpanse dan mungkin juga anjing yang telah terbukti melakukannya.

                                        menguap juga dapat menular dari menusia ke anjing

Jika anda melihat seseorang menguap, rasanya hampir tidak mungkin mencoba menahan untuk tidak ikut menguap. Dahulu para ilmuwan menganggap bahwa menguap hanya dilakukan seseorang untuk memaksimalkan pemasukan oksigen ketika tubuh orang tersebut sedang kekurangan pasokan oksigen seperti ketika mengantuk dan akan beranjak tidur. Namun teori ini tampaknya perlu mendapat revisi karena penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kita juga dapat secara spontan ikut menguap ketika melihat orang lain yang sedang menguap walaupun kita sedang dalam keadaan yang tidak kekurangan oksigen. Awalnya, para ilmuwan sendiri masih tidak dapat menjelaskan dengan pasti alasan mengapa kita menguap ketika melihat orang lain menguap. Namun, sekarang sebuah studi terbaru sudah dapat menjelaskan mengapa menguap dapat menular dengan pengaruh yang sangat kuat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ikut menguap ketika orang lain sedang menguap adalah tanda empati dan merupakan bentuk ikatan sosial. Karena penularan emosi tampaknya telah menjadi insting utama yang mengikat seseorang dengan yang lainnya. Sehingga tampaknya menguap mungkin juga merupakan bagian dari hal tersebut. Seperti kita akan ikut tertawa dan menangis ketika sahabat kita melakukannya, menguap juga menular dengan cara yang serupa. Para ilmuwan telah berteori bahwa menguap yang menular adalah pengalaman bersama yang akan meningkatkan ikatan sosial. Secara khusus, dapat menyebarkan dan saling berbagi rasa stres atau rasa tenang pada suatu kelompok.
Studi ini juga menemukan bahwa anak-anak tidak mengembangkan perilaku ini (ikut menguap ketika melihat orang lain menguap) sampai mereka berusia sekitar empat tahun. Sedangkan anak-anak dengan autisme hanya memiliki kemungkinan 50% untuk dapat menunjukkan prilaku ini dibanding dengan mereka yang normal, bahkan dalam kasus yang paling parah, mereka tidak pernah melakukannya. Oleh karena itu, kini menguap juga dapat membantu dokter dalam mendiagnosa gangguan perkembangan pada anak.
Studi terbaru menunjukkan menguap bukan saja sebagai tanda seseorang ingin tidur. Tapi tujuan menguap untuk mendinginkan otak sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga.
Tapi kenapa ketika seseorang menguap yang melihatnya juga ikut menguap?
"Kami berpikir penyebab menguap itu menular karena dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk menjaga kewaspadaan kelompok. Karenanya menguap adalah tanda empati," ujar seorang peneliti Dr Gordon Gallup, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (8/4/2010).
Penyebab lain menularnya menguap karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system) yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu. Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap.
Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama. Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap.
Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular. Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak.
Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap.
Jika seseorang menguap, maka ada tahapan yang terjadi adalah:
1.             Dimulai dengan mulut terbuka
2.            Rahang bergerak ke bawah
3.            Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru
4.            Menghirup udara
5.            Otot-otot perut berkontraksi
6.            Diafragma didorong ke bawah paru-paru
7.            Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali.
Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.
Metrotvnews.com, Jakarta: Para ilmuan tertarik pada fenomena menguap yang menular. Penelitian terbaru menunjukkan menguap yang menular adalah bentuk empati sosial. Hal itu membantu orang untuk berinteraksi satu sama lain.
Versi ini terbukti oleh fakta bahwa anak-anak menunjukkan tindakan menguap yang menular pada usia empat sampai lima tahun. Hal ini terjadi bersamaan dengan pengembangan kemampuan untuk menginterpretasi emosi orang lain. Akan tetapi, belum jelas apa yang menentukan menguap bisa ditularkan kepada orang lain.
Peneliti dari University of Pisa telah menganalisa 480 tindakan menguap yang melibatkan 109 relawan. Mereka tinggal di belahan bumi yang berbeda: Amerika Utara, Asia, Afrika, dan Eropa. Hasil penelitian tersebut membenarkan teori yang ada.
Reaksi orang untuk menguap sangat menunjukkan hubungan antara kelompok orang yang berbeda. Menguap yang paling menular adalah antara anggota keluarga. Mereka menyebabkan keinginan setengah dari relawan untuk menguap.
Kategori ini diikuti oleh teman-teman. Ketika menguap, langsung direspon hampir dari setengah relawan. Keinginan yang sama untuk menguap jika hubungan sosialnya hanya dalam konteks saling mengenal terjadi pada satu dari delapan orang. Sedangkan menguap yang ditularkan orang asing hanya terjadi pada satu dari sepuluh orang.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa butuh waktu yang lebih lama untuk menularkan tindakan menguap pada orang asing, dibandingkan dengan orang-orang yang kita kenal baik.
Referensi

1 komentar:

  1. Terima kasih buat sharing infonya.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya”. [HR Bukhari]

    BalasHapus